My Bullet Journal

MY BULLET JOURNAL (1)

Gak bisa. Saya gak bisa bertahan lagi. Selama ini saya coba untuk mencatat semuanya hanya di dalam benak saya saja, atau agak sedikit “sok iye” dengan mencoba mencari aplikasi perencanaan harian di Play Store, atau pakai post it yang saya lekatkan dimana-mana termasuk di layar monitor laptop. Saya berharap (dan berusaha) untuk hidup dengan lebih terorganisir.

Kok susah ? Padahal dulu saya sangat seperti itu, semua dicatat di buku catatan kecil atau agenda. Saat kuliah dulu, saya membuat planning busana yang akan saya kenakan selama seminggu. Apa-apa yang akan saya lakukan selalu saya catat di buku agenda mini yang selalu saya bawa kemana-mana.

Lalu sekarang, ketika jaman lebih modern, saat tidak perlu lagi bawa pen dan notes, ketika mini komputer bernama ponsel selalu menemani saya pagi siang sore malam, kenapa rasanya waktu berjalan begitu cepat dan saya tidak menyelesaikan banyak hal? Aneh. Ini pasti ada yang missed dalam pengaturan waktu saya, atau dalam pencatatan saya, atau yang paling parah : dalam kedisiplinan saya.

Yes that’s the point. Disiplin. Ini yang saya rasakan terus berkurang dari hari ke hari. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang baik yang semestinya terus menerus saya lakukan seperti menulis, memotret, membaca, menjaga kesehatan dengan makan yang “benar” plus berolahraga, serta hal-hal yang berkaitan dengan agama dan keyakinan (yang tidak pernah saya katakan kepada siapa pun karena itu sungguh-sungguh hal yang menurut saya sangat pribadi). Menurut saya, hal-hal seperti itu harus dilakukan secara berkesinambungan, gak bisa dan gak boleh nyantai, karena kalau nyantai, gak ada tujuan, gak ada goals, gak ada target. Lalu kalau kelewat nyantai, nanti saya akan mencontek ucapan banyak orang : “Ah, hidup saya sih mengalir aja seperti sungai, diikuti saja lah kemana alirannya”. Ini buat saya sih excuse, pembenaran atas ketidakdisiplinan saya 😊

Bukan mencari kambing hitam, tapi saya memang harus menelusuri lagi sejak kapan saya menjadi lebih santai dan menjadi “penunda sejati” yang semestinya tidak terjadi kalau saya ingin sungguh-sungguh memperbaiki diri. Setelah diingat-ingat lagi, saya  tahu bahwa kemalasan saya bertambah sejak sekitar 10 tahunan gitulah. Kok tau? Iya, tau kok, dan sadar. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus mengakui bahwa chat dan media sosial menyita cukup banyak waktu saya. Saya ingat, 2008 saya mulai punya Facebook, lalu diikuti Twitter, lalu diikuti Instagram, lalu ada BBM untuk berkomunikasi, lalu ada Whatsapp, ada Line, ada Telegram, ada ini ada itu ada dan sebagainya. Dan sejujurnya, waktu saya terdistraksi oleh semua itu, kalau saya menggunakannya  untuk lihat-lihat akun orang lain dan mengobrol saling jawab. Wah itu bisa menyita waktu berjam-jam. Bisa dibayangkan kalau japrian ngomongin orang, waaaaaah pasti akan lebih lama lagi waktu yang tersia-sia, soalnya ngomongin orang tuh bikin addict, mirip narkoba : buruk, dan nagih. Ngawur lah pokoknya 😊

OK, sudah ketemu penyebabnya. Yang penting disadari dulu penyebab saya menjadi « cileupeung ». Setelah sadar, baru dicari jalan keluarnya, karena kalau hanya sekadar menyadari tapi diem aja, gak akan ada gunanya, seperti duduk di kursi goyang, bergerak terus tapi gak maju-maju.

Adalah Dydie Prameswarie dan Tian Lustiana, teman-teman blogger saya, yang bulan lalu menuliskan tentang Bullet Journal. Tulisan mereka menginspirasi saya untuk kembali ke masa lalu, melontarkan diri ke kebiasaan saya saat kuliah, menuliskan semuanya, merencanakan apapun, di buku catatan, dan kali ini ditambah dengan warna-warni atau gambar. Ahahaha, ini asik banget, berasa kembali ke bangku sekolah dasar. Pasti seru.

Jadi sepemahaman saya sih, bullet journal ya nulis agenda pribadi untuk semua hal. Misalnya pingin kurus, saya akan bikin kotak-kotak tanggalan berderet, lalu di kolom kiri bisa dibuat makanan apa saja yang dikonsumsi, nanti di dalam kotak-kotak itu bisa diisi centang atau bulatan atau apapun yang menunjukkan bahwa makanan itu dikonsumsi atau tidak dikonsumsi. Di akhir bulan nanti, akan terlihat, bahwa setiap hari saya makan ayam dan daging, dan tidak pernah makan sayuran. Bulan berikutnya saya bikin lagi bullet journal untuk memperbaiki pola makan saya.

bullet journal 2
image from Pinterest

Ah, susah ngejelasinnya. Pokoknya journal lah, journal untuk semua kegiatan, dan dituliskan dengan gaya setiap orang, semau dia, pokoknya seneng liatnya. Mau diberi warna atau gambar ya monggo, pokoknya engkau hepi melakukannya. Kira-kira begitu.

Untuk merealisasikan bullet journal saya, yang pertama tentunya membeli buku catatan di toko buku yang terkenal itu, saya pilih yang polos saja seperti buku gambar supaya bisa saya gambari dengan semena-mena. Selain buku polos itu, saya juga membeli buku kalender 2019 untuk membantu saya mengingat rencana-rencana saya, kan sudah diniatkan untuk well planned tahun ini.

Untuk menulisi dan menggambari bullet journal, saya beli satu set spidol snowman yang murah (menghindari penyesalan kalau proyek ini tidak berlanjut). Sudah, itu saja.

Saya bukan ahli menggambar. Saya hanya punya kebiasaan berkhayal dan berimajinasi, serta bermimpi. Jadi saya perlu ide-ide gambar sederhana untuk mengisi bullet journal saya. Seperti biasa dong, saya mencarinya di Pinterest, dan begitu saya klik “bullet journal”, berderet-deretlah keluar gambar yang menginspirasi.

Minggu lalu saya sudah bikin gambar balon-balon untuk pengingat ulang tahun seluruh teman kantor. Jangan berprasangka baik bahwa saya teman yang penuh perhatian ya. Ini bagian dari pekerjaan saya di kantor, membeli kado untuk setiap pegawai yang berulang tahun. Maka saya harus mencatat dan mengingat tanggal kelahiran setiap pegawai.

Saya merencanakan akan membuat habit tracker di bullet journal saya. Saya tau itu akan menyakitkan karena saya akan menuliskan sesuatu yang selama ini menjadi kebiasaan yang kurang baik, dan secara perlahan mengubahnya menjadi kebiasaan yang lebih baik.

bullet journal 1
image from Pinterest

Baiklah, semoga dengan bantuan bullet journal dan buku kalender 2019 ini banyak kebiasaan yang bisa saya perbaiki. Namanya juga usaha. Kan katanya hari esok harus lebih baik dari hari ini dan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Bismillah. Doakan saya sukses yaa. Makasih 😊

Teriring ucapan terima kasih kepada siapa pun yang membuat saya berpikir untuk menjadi lebih baik.

Advertisements

Keep Writing

Kemarin Efi bikin aturan baru untuk Blog Walking dan Instagram Walking di grup WA Kumpulan Emak Blogger. Ini salah satu grup chat yang saya pertahankan sampai sekarang. Emang yang lain tidak ya? Yaaah so so lah. Grup chat itu kadang saya ingin masuk sendiri, kadang saya dijebloskan (tanpa seijin saya) dan membuat saya mati gaya karena gak betah. Keduanya sama saja pada akhirnya, ketika saya tidak merasa ada manfaatnya, atau kalau saya merasa sangat terganggu dengan banyaknya notifikasi, ya pilihannya adalah merampingkan jumlah grup dengan cara dadah dadah 🙂

Nah grup Emak Blogger ini saya suka, meskipun saya gak aktif, soalnya di sini saya banyak dapat pelajaran. Nggak ada yang sharing sih, tidak riuh seperti keumuman grup chat, tapi dimana pun, saya kan sangat senang menjadi pengamat. Nah saya perhatikan, di grup ini para anggotanya seperti dalam cerita Semut dan Belalang, dongeng kanak-kanak jaman dulu. Tentu mereka seperti semut ya, bukan mirip belalang (belalangnya kan pemalas, heu). Serius ini, para anggota grup ini rajin sekali menulis. Memang tidak semuanya, tapi banyak yang rajin. Setiap sekian hari, menulis postingan baru. Hebat idenya, dan hebat pengaturan waktunya. Kan mereka ibu-ibu, yang juga harus ngurusin rumah.

Sebetulnya saya iri dengan orang yang bisa rajin menulis. Bagi saya, kegiatan yang satu ini perlu waktu khusus. Apalagi saya anggota team introvert, yang tak bisa berlama di keramaian, artinya saya harus mojok menyendiri untuk menulis, dan tak bisa secepat orang lain karena saya bukan orang yang multitasking. Iya, office boy di kantor kerap membuyarkan ide-ide saya untuk menulis (Cahyadi, kamu jahat, wkwkwk). Saya selalu bekerja one by one, selesaikan dulu satu pekerjaan, baru bisa mengerjakan yang lainnya. Sulit bagi saya kalau kegiatan menulis diselingi berbagai pekerjaan lain. Buyar deh semuanya. Meski sudah saya planning dengan point-point, yang sulit adalah mengembangkannya, dan mengembalikan mood menulis ke planning tadi.

Maka, bagi saya, orang-orang yang bisa produktif menulis itu bisa disimpulkan dengan satu kata: mengagumkan.

Selain itu, yang bikin saya heran adalah pengaturan waktu. Saya bertanya-tanya, gimana ya mereka ngatur waktu sehingga semua pekerjaan bisa diselesaikan dan ditambah pula dengan waktu menulis?

Waktu saya 24 jam, mereka juga. Terus kenapa saya gak bisa seproduktif mereka?

Saya sampaikan hal ini kepada sahabat saya (yang sering bikin saya jengkel dengan jawabannya yang seringkali simple dan realistis dan menyakitkan). Dia ketawa, jawabannya so simple (dan jleb as always) : “Tuh cuma soal prioritas, prioritas mereka apa, prioritas lo apa.”

Iya bener. Selama ini saya ngeblog sebagai bagian dari relaksasi, nyantai, ntar kalau ada waktu. Upload foto juga gitu. Saya sangat menikmati perjalanan-perjalanan saya, motret, dan lupa mengunggah, karena sudah keburu jalan lagi, menikmati perjalanan lagi.

Helowww mbak, hidup kok gak ada goal, kelewat santai tuh. Gimana mau produktif? Harus berasa dikejar deadline lah sekali-sekali, biar gak terlalu lambat kaya kura-kura.

Dan alih-alih nyadar serta mengubah diri, saya malah kembali ke dongeng kanak-kanak Semut dan Belalang : iyess, dalam hidup ini, ada orang-orang yang rajin banget seperti semut. Nah harus ada penyeimbangnya kan? Baiklah saya menjadi belalangnya saja.

Maafkan, alasan seorang introvert banget. Suka sorangan, bergelung di tempat tidur, main dengan kucing, bermalasan saat mendung dan hujan, sambil minum teh. Euweuh kadaek pisan. Demikianlah 🙂

Dangau mungil dan daun bawang di Argapura

 

 

dsc_0324-01452618032.jpegPada dasarnya saya pemalas dan tak suka segala sesuatu yang tergesa-gesa. Maka setiap bepergian kemana pun, selalu bersiap jauh hari, dan selalu berharap untuk sempat bermalam di tempat tujuan. Bukan apa-apa, biasanya saya pergi sambil motret, atau bahkan bertujuan untuk memotret. Kalau saya berangkat malam, sampai sana pagi, langsung motret, maka tubuh saya akan meminta haknya: istirahat. Saya akan motret dalam keadaan capek, dan sejujurnya, kalau letih, saya tidak bisa memotret dengan maksimal. Dari sekian puluh jepretan, bisa jadi hanya sepuluh yang tidak goyang dan tidak blur. Sayang dong, perjalanannya sudah begitu lama, yang dihasilkan tidak memuaskan hati.

Salah satu tempat yang saya kunjungi dengan “rusuh” adalah Argapura, Majalengka  di awal Januari tahun ini. Asiklah awal tahun dibuka dengan trip, semoga dilanjutkan dengan perjalanan di bulan-bulan selanjutnya sepanjang tahun ini.

Saya berangkat bersama teman-teman jam 10 malam, sampai di Majalengka dini hari jam 3, tidur sebentar di mobil (sepanjang jalan juga tidur, tapi ya gitu deh, tidak nyenyak), lalu mulai mencari sunrise. Nyamankah tidur di mobil, dini hari, sekitar 2 jam saja? Ya nggak lah, tubuh tidak berada di tempat rata, bikin pegal pinggang. But show must go on. Mari mulai….

Keluar dari mobil, matahari belum terbit. Saya membiasakan mata saya untuk melihat sekitar, kelihatan sih samar-samar. Setengah jam kemudian, terang tanah, semuanya tampak lebih jelas, dan saya bisa melihat semuanya.

dscf4258-021440539614.jpeg

Helow, ini tempat apa sih? Indahnya tiada tara. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya perbukitan, dengan garis-garis beraturan, sangat rapi. Ini “hanya” perkebunan bawang gaes, iya, bawang daun, yang sering saya pakai buat bikin sop kegemaran anak saya.  Heran, bisa geulis gini kebun bawang. Kiri, kanan, depan, semuanya berderet, membuat pola yang tampak ajaib, lebih mirip patchwork daripada kebun.

Seperti biasa setiap kali melihat pemandangan indah, saya diam saja melongo, menikmatinya, dan lupa mengeluarkan kamera. Maunya sih tak usah motret, diam-diam saja di situ, merasakan diri rileks. Eh tapi, saya ‘kan ingin punya juga fotonya, buat dokumentasi, bukti bahwa saya pernah ke sana, supaya kalau saya cerita, orang percaya, haha.

Saya mulai memotret. Kata guru saya, kalau datang ke satu tempat sebagai juru foto,  memotretlah seperti menulis, mulai dari keseluruhan, lalu, menyempit. Selalu itu bekal saya kalau bepergian, agar foto-foto yang kelak bisa bercerita dalam deretan, dan saya tak perlu terlalu repot menuliskan narasi, biarkan gambarnya bercerita sendiri.

dscf42491155634041.jpg

Mau cerita apa tentang kebun bawang ? Semua ibu-ibu pasti tau bendanya seperti apa. Oh mau kesana ? Coba googling, tempat ini sudah menjadi ‘tempat wisata sejuta umat’. Saya Cuma harus ingatkan, bahwa jalan menuju kesana tuh sempit, curam serta menanjak. Itu saja.

Apa yang bisa difoto di sana? Ya kebun bawang lah. Apalagi? Kalau senang memotret manusia, di pagi hari banyak ibu dan bapak petani yang beraktifitas di tengah pola-pola perkebunan bawang. Oh ya, ada juga dangau-dangau, pondok mungil di tengah perkebunan, yang tampak sebagai aksen di tengan keluasan warna hijau.

dsc_0294-011021904803.jpeg

Jangan lupa, kalau niatnya jalan-jalan, gak usah buru-buru. Nikmati saja alamnya. Santai. Kalau pada akhirnya gak sempat berfoto di sana karena lupa, gak papa juga. Sesekali, lupakan niat untuk terus-terusan eksis di media sosial dengan foto-foto kita di berbagai tempat di dunia. Berbahagialah saat menjadi bagian dari keindahan alam, bukan saat mendapat banyak likes ketika mengunggah fotonya di media sosial.

Memotret seribu gelombang di Sawarna

Pantai pastilah menjadi primadona landscape yang diburu oleh para fotografer, or pantai, or pegunungan, maka bepergian ke dua kawasan itu selalu seru dan mengasyikkan. Bagi saya, yang menarik bukan hanya tempatnya, bukan hanya obyek batu karang di pantai atau hijaunya warna perkebunan sejauh mata memandang, lebih dari itu adalah effort untuk mendapatkan angle dan momen agar memperoleh foto yang seringkali disebut orang sebagai foto cetar. Lalu, bagaimana mendapatkan foto-foto yang kelak di akun Instagram akan mendapat banyak likes dan dikomentari puluhan kata “kerennn”? Oh, kalau itu sih saya gatau, semestinya Anda bertanya pada content creator agar jadi ngehits di media sosial, bukan pada saya.

Bagi saya pribadi, yang disebut keren, cool, cetar atau apapun namanya, bukan hanya sekadar jumlah likers di media sosial, tapi bagus saja deh menurut yang memotretnya, setidaknya ketika melihatnya lagi, ada kepuasan, atau yang lebih mahal adalah: ada kenangan akan tempat yang dikunjungi, ada pengalaman yang bisa ditarik kembali dari masa lalu, mungkin bisa disenyumi karena teringat perjalanan kala itu, bisa membuat tertawa karena terkenang teman seperjalanan yang setiap bicara selalu bikin ketawa.

Kali ini juga, deretan foto di pantai favorit saya, yang selalu ingin saya kunjungi lagi entah kapan kalau ada kesempatan. Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, di Banten. Sudah kedua kalinya menjejakkan kaki di sana, rasanya masih kurang juga waktu untuk merekam seluruh pesisir pantainya.

Tanjung Layar, Sawarna. Sunset.

Kenapa tempat ini begitu memikat? Yeay, namanya juga pantai. selalu membuat rileks. Main air, dimana pun, pasti menyenangkan, dan jangan ditanya, pantai selatan, yang menghadap ke Samudera Indonesia, pastilah sumber gelombang tinggi yang berdeburan membentur karang. Iya, di Sawarna dan kawasan sekitarnya: Tanjung Layar, Karang Taraje, Legon Pari dipenuhi dengan batu karang. Jadi gelombang besar yang datang, membentur batu karang sebelum melembut menyusur pasir pantai. Yang paling cantik adalah saat gelombang membentur karang yang memanjang di pantai, menyisakan buih air laut di sela-sela batu karang, mirip air terjun.

 

Sawarna, sunrise

Gimana sunrise dan sunset di Sawarna? Di pantai mana pun, hal yang dua itu pasti luar biasa indah. Nah ini yang tadi saya sebut sebagai effort untuk mendapatkan hasil foto yang memuaskan. Kalau ingin mendapatkan foto sunrise yang ciamik, setelah solat subuh sudah harus siap di pantai, menanti matahari terbit. Lalu setelah matahari terbenam masih harus berada di pantai, menunggu blue hour, saatnya langit berubah, bukan lagi berwarna jingga, tapi menjadi ungu kebiruan dengan sisa warna jingga.

dscf7059-01587362942.jpeg
Karang Taraje, Sawarna, Banten

Karena berangkat saat masih gelap dan pulang setelah gelap, maka ada sedikit pengorbanan, kadang merelakan telapak kaki sedikit luka karena menginjak karang-karang tajam, meskipun sudah menyorotkan senter, kan senter hanya untuk menerangi, bukan alarm pendeteksi ketajaman karang. Juga harus bersiap untuk menjadi angkaribung (ini bahasa Sunda yang artinya banyak banget bawaan). Kamera dikalungkan, tripod disandang di bahu, bawa senter,  bawa monopod. Lha ngapain bawa monopod, kan udah bawa tripod? Ooo ini sih alasan pribadi, buat saya, monopod berguna juga sebagai tongkat. Kan waktu menyebrang bebatuan terkadang harus nyemplung, nah itu seringkali gak ketahuan kedalamannya, maka saya tancapkan dulu monopod, baru saya melangkah, agar teguh dan tidak terpeleset.

dscf7203-01287709239.jpeg
Legon Pari, Sawarna, Bayah

Oh yaa, hampir lupa. Sehubungan dengan banyak bawaan tadi, ada tas kecil yang dibawa, isinya filter. Kalau saya sih hanya bekal filter ND, biasalah buat bikin foto air yang seperti kapas (dan tampak kurang natural, IMHO) plus filter CPL, polarizer. Dua filter itu sudah membuat saya cukup sibuk gonta ganti, jadi saya tidak pakai filter-filter lain, kuatir saya jadi bermain filter dan bukan memotret 🙂

Demikian. Kalau saya sih senang dengan kehebohan motret gelombang di pantai. Sewaktu di Sawarna, di Karang Taraje, agak cemas juga karena saya turun ke pantai berkarang, ketika berangkat sih airnya rendah, tapi ketika pulang airnya mulai naik, akan pasang, sudah 15 centimeter di atas lutut. Alhamdulillah saya bersama pak Dadang, pemandu yang baik dan berpengalaman, penduduk setempat. Dia yang menenangkan saya bahwa “semua akan baik-baik saja” (mirip lyric lagu), jadi saya berjalan saja melintas air laut yang mulai pasang. Bismillah, alhamdulillah, sampai kembali di tepi pantai yang landai, dibonceng pak Dadang naik motor, kembali ke penginapan.

Demikian ya. Kalau ada yang ke Sawarna, ajak saya ya, saya ingin ke sana lagi, tak pernah bosan memotret ribuan gelombang yang membentur karang.

dscf6621-011338525723.jpeg
Using ND Filter

 

Resolusi Abadi

Selamat siang 2019.

Inilah postingan pertama di tahun ini, dengan harapan akan berkelanjutan, setidaknya lebih banyak daripada postingan tahun lalu yang ngitungnya pun malu karena terlalu sedikit. Yaah namanya juga usaha,harapan. Lumayanlah masih punya impian, kan katanya orang sukses itu memulai segalanya dari impian. Atau hal ini masuk list resolusi tahun 2019?

Akhir tahun lalu putra saya menanyakan berkali-kali mengenai resolusi saya, dan jawaban saya tetap sama : “Ibu gatau dek”.Oh, gak tau ya? Sementara kebanyakan orang sudah punya list, saya masih juga menggelengkan kepala dengan wajah tanpa ekspresi.

Serius, gak tau. Barangkali karena saya punya terlalu banyak keinginan untuk direalisasikan sehingga bingung harus mulai dari mana. Mendengar teman saya rajin berenang, saya ingin. Mendengar teman lainnya akan rajin berjalan pagi, saya juga ingin. Pergi ke toko A yang memikat (dengan harga-harga selangit), saya jadi ingin sepeda statis. Lihat si X pake kamera baru atau henfon dengan fitur keren, saya jadi kabita. Lalu ingin membuat dapur di halaman belakang, lalu ingin menuntaskan toilet di lantai atas yang baru separuh selesai. Selain itu, ingin merapikan halaman depan rumah, membuat taman, ingin jalan-jalan kesana, kesitu, kesono. Terus ? Semua itu dijadikan kenyataan di tahun ini ? Helow, mimpi juga ada batasnya keleus, bukan sagala hayang, semua diinginkan, sementara kemampuan terbatas.

Setiap kali bercermin di pagi hari, perasaan wajah saya semakin mirip Nobita, kawannya Dora Emon. Mirip sekali. Iyalah, ‘kan emang sodara kembar: ingin ini ingin itu banyak sekalee.

Maka, saya tertawa mendengar kisah obrolan putra saya dengan temannya:

“Duh, tahun 2018 tu kayanya saya gini-gini aja ya. Tar tahun 2019 harus berubah ah, masa gak ada perbaikan. Pokoknya harus lebih baik. Harus!”

“Iya nih, saya juga mikirnya gitu kok. Gak asik nih saya tahun ini. Tahun depan harus lebih keren, lebih asik segalanya. Ehm, eh tapi….bukannya tahun lalu juga kamu ngomong kaya gitu ya? Aku juga, rencananya sih begitu, n ngomongnya persis sama. Terus weee tiap tahun berencana, tapi gak pernah menjadi kenyataan.”

Mendengar obrolan itu, saya ketawa. Memang cuma humor sederhana antar remaja, tapi lumayan mengiris hati. Dan saya ketawa, tidak lebar, sedikit getir. Saya sedang mentertawakan diri sendiri, menyadari bahwa rencana saya atau impian atau resolusi di akhir tahun atau apapun namanya, seringnya mirip lagu cengeng jaman baheula : “promise only promise, honeymoon only dreaming” atau tepatnya “janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi”.

Seminggu sebelum 2018 berakhir, saya ngobrol tentang resolusi dengan teman-teman kantor. Salah satu teman yang (menurut saya) paling realistis mengatakan dalam kalimat singkat: “Biasanya, resolusi tahunan tuh dilaksanakan di bulan Januari saja”.

Semoga tidak demikian sih. Semoga resolusi tahunan memang dilaksanakan dan dijalankan, dengan penuh disiplin dan secara sungguh-sungguh.

Maka, saya memilih untuk menjawab: “Ibu gak tau dek” ketika putra saya menanyakan resolusi saya untuk tahun 2019. Kalaupun ada, saya simpan sendiri saja deh, daripada anak saya keburu berkomentar: “perasaan, sama dengan tahun-tahun lalu.”. Itu ‘kan namanya resolusi abadi

Fotografi : Memotret saat mendung

Sekali waktu, saya pergi ramai-ramai dengan teman-teman. Seperti biasa, ikut saja, pokoknya saya percaya bahwa panitia tak akan membuat saya kecewa karena saya sudah beberapa kali pergi bersama mereka dan selalu menyenangkan. Ini landy trip, konvoi landrover jaman kuno yang selayaknya sudah masuk museum tapi ketika digunakan masih sangat keren.  Waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam. Sebentar sih, kalau lebih lama lagi pasti saya masuk angin, lha landy nya tak berjendela.
Sampai di lokasi, bener aja, tempatnya asyik, dan teman-teman segera mendirikan  tenda. Wohoo saya tidak menduga akan kemping. Hepi lah, berasa kembali ke jaman SMP karena terakhir saya kemping saat saya duduk di kelas 3 SMP.

001

Rencana semula, pastilah seperti keumuman tujuan para juru foto, mengejar sunrise dan sunset. Sudah dirancang akan motret sunset di sore hari ketika sampai di lokasi kemping. Tapi yang mengatur cuaca ‘kan bukan manusia, awan kelabu bergumpal, mendung karena memang musim penghujan. Yaaah bakal gak dapet sunset nih. Ada kemungkinan malemnya gak akan dapet milky way juga kalau begitu.002.JPG

Kecewa? Iyalah, dikit. Dan memang jangan banyak-banyak, kalau kebanyakan ntar malah tak menghasilkan apa-apa karena bete. Lalu saya ingat pesan Aa Gym yang pernah saya dengar di radio lebih dari 10 tahun lalu. Tak sengaja mendengar, tapi tak akan saya lupakan :

Kalau nasi sudah jadi bubur, maka buatlah bubur ayam yang enak

Saya sudah berada di lokasi. Terus kalau gak dapet sunset, mau pulang ke Bandung naik angkot, gitu? Memangnya obyek foto itu hanya matahari? Hanya cahaya belaka, harus berwarna jingga? Ya nggaklah. Lokasi kemping yang saya datangi bersama teman-teman itu bagus kok, alami dan natural sekali, banyak hal bisa diabadikan, direkam, meski hujan nyaris jatuh dan dingin sudah menyusup tulang.

003

Dan inilah hasilnya, kepingan foto-foto tanpa kuning mentari. Menurut saya, mendung dan kelabu yang menyentuh ilalang itu malah membuat suasana jadi romantis dan menerbangkan angan serta imajinasi kemana-mana.

So, jangan kecewa kalau gak dapet golden hour saat memotret. Yang penting lihat sekitar dengan teliti. Kata temanku, biasanya, ketika kondisi tak menyenangkan, kita akan mencari jalan untuk mendapatkan jalan keluar. Artinya, kreativitas itu muncul saat awan menggantung, bukan saat langit cerah membiru. Minimal jadi lebih memperhatikan banyak hal, dan bukan hanya berkonsentrasi pada satu hal saja.

Yuk, mari memotret di musim penghujan 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jatigede, Selamat Sore

Saya senang jalan-jalan, kemana saja kaki membawa saya melangkah, atau kemana saja teman mengajak, atau kemana saja sakahayang  saya (terjemahan bebas dari sakahayang saya adalah gimana gue). Perjalanan-perjalanan tersebut bagi saya bukan hanya sekadar menjejakkan kaki: datang, lihat, motret, pulang. Lebih dari itu, banyak tempat yang saya kunjungi kerap menyisakan cerita yang selama ini selalu saya simpan sendiri, tak pernah menyengaja saya tuliskan di blog, karena saya pikir tak cukup kata untuk menggambarkan semuanya, kelewat mewah untuk diterjemahkan dalam kata-kata. Sekarang saya berubah pikiran. Dengan kalimat sesederhana apapun, akan bisa dipahami dan dirasakan oleh pembaca blog ini maupun tidak, tidak ada salahnya saya tuliskan pengalaman saya. Siapa tahu ada manfaatnya bagi orang lain. Maka inilah, saya memulainya dengan satu tempat yang sangat saya sukai.

4

Sejak sekitar dua bulan lalu, dunia perfotoan digemparkan (saya sedang gemar menggunakan kata-kata dramatis dan lebay) oleh suatu tempat yang fotojenik banget. Para fotografer bergantian ke sana, malah ada yang sengaja bawa model syantik dengan kostum Gothic Style, disesuaikan dengan suasana tempat tersebut yang memang keren untuk dijadikan latar. Ini tempat apa? Cafe baru yang instagrammable? Bukan dong, itu mah sudah biasa. Jadi apa?

5

Ini waduk yang diresmikan pada tahun 2015. lokasinya di kawasan Jatigede Sumedang. Sumedang itu tidak jauh dari tempat tinggal saya, dan sungguh keterlaluan bahwa saya sangat jarang ke sana, padahal hanya 2 jam saja dari Bandung naik kendaraan pribadi, dan sekitar 3 jam kalau naik kendaraan umum.

Apa anehnya waduk? Biasa saja ‘kan? kaya danau-danau gitulah, sering dijadikan tempat rekreasi. Please, danau tuh bagus untuk difoto, apalagi ini bukan danau biasa. Kemarau panjang tahun ini dan penyaluran air yang dialihkan ke tempat lain, membuat air waduk Jatigede menyurut drastis.  Akibatnya, sejumlah desa yang beberapa tahun lalu ditenggelamkan, muncul kembali ke permukaan, dalam kondisi mengenaskan. Bisa dibayangkan, ratusan rumah yang sudah digenangi air selama tiga tahun, sekarang hadir kembali. Tanah bekas sawah yang dulu subur, jadi pecah-pecah, garing dilanda kemarau panjang. Jatigede mirip kota mati, seperti area peperangan di Bosnia atau Sarajevo, dan jadi sangat jenik dalam bingkai foto.

jatigede 1

Kali pertama saya ke sana, akhir bulan lalu, bersama Pak Fendi dan dua teman lainnya. Keesokan paginya ke sana lagi bersama teman-teman landscaper untuk memotret matahari terbit. Masih tak cukup. Minggu depannya saya berangkat lagi menuju Jatigede, sendirian, naik angkutan umum, menginap di rumah ibu Yati yang sangat baik hati, yang menceritakan saat tenggelamnya desa-desa itu dengan mata berkaca-kaca. Ini saksi hidup yang merasakan perihnya terusir dari rumah yang besar dan nyaman, dan terpaksa pindah ke rumah lain yang jauh lebih kecil. Ada juga penduduk yang terpaksa pindah ke tempat lain, membuka hutan untuk membuat pemukiman baru.

7

Cerita Jatigede bukan fiksi belaka. Ini cerita yang memang benar ada dan membuat mata saya perih saat mendengarnya dari yang mengalami. Miris. Tak heran kalau foto-foto yang didapat sepulang dari sana adalah foto-foto yang suram dan temaram, mirip senja dengan matahari yang nyaris tenggelam.

6

Eh tapi nggak kok. Bagi saya, Jatigede bukan kota mati, bukan tempat tanpa harapan. Saya menemukan bagian-bagian yang rasanya justru menyeruakkan cahaya, iya, mirip sunrise. Saya mencoba memotret Jatigede dari sisi lain, yang lebih manis. Barangkali hanya untuk menyemangati diri saya sendiri, bahwa dibalik kelam, selalu ada harapan. Matahari terbenam hari ini, untuk terbit kembali esok pagi, membawa sinar yang menghangatkan, yang sangat mungkin mengantarkan kebahagiaan. Harus tetap optimis lah.

jatigede 3

Selamat sore Jatigede, dan selamat pagi juga 🙂

Note :

Foto-foto Jatigede lainnya ada di Instagram @viverasiregar